June 2, 2010

Candi Muaro Jambi

Situs Purbakala Kompleks Percandian Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Indonesia yang kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Kompleks percandian ini terletak di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, tepatnya di tepi Batang Hari, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi. Koordinat Selatan 01* 28'32" Timur 103* 40'04". Candi tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-11 M. Candi Muaro Jambi merupakan kompleks candi yang terbesar dan yang paling terawat di pulau Sumatera. (*text from http://id.wikipedia.org/wiki/Kompleks_Candi_Muaro_Jambi)





All images by Rio Angga Satria - ©2010

March 28, 2010

Performance analysis AC-BC uses coarse aggregates having high abrasion

Growth and development of a city requires an adequate transportation infrastructure to serve the increasing mobilization of human, volume, and frequency of transportation of goods and services. The availability of aggregate that is not eligible to be of 40% maximum abrasion becomes so difficultto obtain as the rapid development and improvement of road paving. It needs to be brought from other areas which would require an additional fee. White stones are common in the Yogyakarta area, particularly in the Gunung Bangkel, Piyungan. Types of white stone in the area are diverse. White stone is used by local communities such as building houses or for MacAdam pavement. The use of available aggregates near the location will be economical in the financing, but they do not always comply with the requirements of specified aggregate. Based on this, test need to be tried to determine feasibility of the use of coarse aggregates which have a high abrasion in hot mix asphalt.

Mixtures used as research materials of Mixed Asphalt Concrete (Asphalt Concrete Binder Course / AC-BC). Variations in asphalt content used were 6.5%; 7.0%; 7.5%; 8.0%; and 8.5%. Variations in aggregate mixtures white stone (Bp), stone clereng (Bc), and stone trim (Bm) were variation I (Bp = 100%), variation II (Bp: Bc = 50%: 50%), and variation III ( bp: Bm = 50%: 50%). Specimens that have been made then were tested using Marshall machine to value of Marshall stability, flow, MQ, VITM, VFWA, and VMA. To determine the aggregate outbreak in the mix extraction test was conducted.

The results show that the values of stability, flow, and MQ are affected by the white stone surface which is relatively smooth so that it makes of poor attachment to the asphalt. Values of VITM, VFWA, and VMA are influenced by the porous nature of white stone so that water and air get easily into pavement layers. The porous nature of this white stonealso affects the value of density that leads to cavities. As a result of these cavities the mixture becomes less tight. Pavement performance using white stone coarse aggregate has a low value, but aggregate can still be used as a pavement by mixing it with rocks abrasion value> 40%.


Key words: flexible Pavement, Aggregate coarse, high abrasion, Mixed AC-BC, and Marshall properties.


===============================================

Pertumbuhan dan perkembangan suatu kota memerlukan suatu prasarana transportasi yang memadai untuk melayani peningkatan mobilisasi manusia, volume, serta frekuensi transportasi barang dan jasa. Ketersediaan agregat yang memenuhi persyaratan abrasi maksimum 40% semakin lama semakin sulit seiring dengan pesatnya pembangunan dan peningkatan perkerasan jalan, untuk mendapatkannya perlu didatangkan dari daerah lain yang tentunya akan memerlukan biaya tambahan. Batu putih banyak terdapat di daerah Yogyakarta, khususnya di daerah Gunung Bangkel, Piyungan. Jenis batu putih di daerah tersebut bermacam-macam. Batu putih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat daerah tersebut sebagai pondasi rumah maupun untuk perkerasan macadam. Pemakaian agregat yang tersedia di dekat lokasi tentunya akan ekonomis dalam pembiayaan, akan tetapi belum tentu memenuhi syarat ketahanan agregat yang telah ditentukan. Berdasarkan hal tersebut perlu dicoba untuk uji kelayakan pemakaian agregat kasar yang mempunyai abrasi tinggi dalam campuran aspal panas (hot mix).

Campuran yang dipakai sebagai bahan penelitian adalah Campuran Aspal Beton (Asphalt Concrete Binder Course / AC-BC). Varisi kadar aspal yang digunakan adalah 6,5%; 7,0%; 7,5%; 8,0%; 8,5%. Variasi campuran agregat antara batu putih (Bp), batu clereng (Bc), dan batu merapi (Bm) adalah variasi I (Bp=100%), variasi II (Bp:Bc=50%:50%), dan variasi III (Bp:Bm=50%:50%). Benda uji yang telah dibuat kemudian di tes dengan alat Marshall untuk diketahui nilai stabilitas, flow, MQ, VITM, VFWA, dan VMA. Untuk mengetahui pecahnya agregat dalam campuran dilakukan tes ekstraksi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai stabilitas, flow, dan MQ dipengaruhi oleh permukaan batu putih yang relatif halus sehingga menyebabkan kelekatan yang kurang baik terhadap aspal. Nilai VITM, VFWA, dan VMA dipengaruhi oleh sifat batu putih yang poros sehingga air dan udara mudah masuk kedalam lapis perkerasan. Sifat poros batu putih ini juga mempengaruhi nilai density sehingga menyebabkan terjadinya rongga. Akibat adanya rongga-rongga tersebut campuran menjadi kurang rapat. Kinerja perkerasan menggunakan agregat kasar batu putih mempunyai nilai rendah, walaupun begitu agregat ini masih dapat digunakan sebagai perkerasan dengan dicampur batuan yang mempunyai nilai abrasi >40%.


Kata-kata kunci : Perkerasan lentur, Agregat kasar, Abrasi tinggi, Campuran AC-BC,dan Marshall properties.